browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

FADEL RESMIKAN “RUMAH SAKIT” IKAN

Posted by on 30 November 2010

FADEL RESMIKAN “RUMAH SAKIT” IKAN

Tingginya kerugian ekonomi yang diderita pembudidaya ikan akibat serangan penyakit disikapi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dengan membentuk lembaga yang khusus menangani hama dan penyakit ikan. Lembaga yang dilengkapi dengan laboratorium hama dan penyakit ikan tersebut nantinya berfungsi untuk meminimalisir intensitas, frekuensi dan dampak dari serangan penyakit dan penurunan mutu lingkungan. Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad saat meresmikan Loka Penyidikan Penyakit Ikan dan Lingkungan (LPPIL) di Pandeglang Banten hari ini (29/11) menyatakan, loka yang disebut juga sebagai “Rumah Sakit” Ikan ini diharapkan dapat melaksanakan pengendalian hama dan penyakit ikan secara optimal dan profesional dengan melakukan pengamatan, pengujian dan pemutakhiran teknik serta metode penyidikan penyakit ikan dan lingkungan.

Menurut Fadel, sebagai laboratorium level 3 atau laboratorium rujukan nasional, rumah sakit ikan  ruang lingkup pengujian yang dapat dilakukan terdiri dari analisa kualitas air dan tanah, parasitologi, mikologi, bakteriologi, histopatologi, biologi molekuler serta produksi vaksin dan imunologi.  “Amerika dan Jepang sudah lebih dulu memiliki “Rumah Sakit” Ikan. Untuk mengatasi masalah serangan penyakit maka Indonesia juga harus memiliki fasilitas yang sama dengan negara-negara terbut, sehingga kami bisa mendeteksinya dan mengobati semua penyakit ikan,” ujar Fadel. Disamping menjadi laboratorium rujukan nasional, rumah sakit ikan atau LPPIL diharapkan juga dapat berperan sebagai pusat jejaring laboratorium kesehatan ikan dan lingkungan secara nasional dan internasional.

Fadel menambahkan, dengan terbentuknya jejaring yang baik, maka komunikasi dan arus informasi antar laboratorium akan semakin cepat dan tepat sehingga penanganan dan pengendalian serangan penyakit ikan dapat dilakukan lebih efektif. Pembudidaya diharapkan dapat memanfaatkan layanan dari Rumah Sakit Ikan apabila menemukan adanya gejala penyakit atau serangan virus di tambak dan lokasi budidayanya. Nantinya, pembudidaya juga bisa memperoleh informasi penyakitnya termasuk tata cara penyembuhan dan obat-obatan yang diperlukan. Nantinya petambak bisa segera mengobati  jika terjadi serangan penyakit yang sama atau bila terjadi wabah penyakit ikan.

Berdasarkan data KKP, serangan virus dan penyakit ikan umumnya terjadi pada komoditas utama perikanan budidaya seperti udang, nila, lele, dan yang lainnya. Akibat serangan penyakit, pembudidaya mengalami kerugian besar seperti yang terjadi pada tahun 2007 dengan total kerugian Rp 27,5 miliar. Bahkan pada tahun 1994, serangan virus white spot pada udang telah mengakibatkan kerugian mencapai Rp 100 miliar. Akibatnya, produk perikanan budidaya asal Indonesia sempat ditolak di pasar internasional akibat munculnya penyakit pada ikan.

Dengan adanya “rumah sakit” ikan ini merupakan inovasi yang signifikan untuk menjadikan budidaya perikanan sebagai wahana mensejahterakan masyarakat.. Hal-hal yang positif di negara lain patut ditiru. Di Norwegia, malah telah ada profesi “dokter ikan” sebagaimana “dokter hewan” bagi peternakan.

( sumber : http://www.dkp.go.id/archives/c/34/3653/fadel-resmikan-rumah-sakit-ikan/)

Share/Bookmark

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *