browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Nelayan

Posted by on 27 June 2010
Nelayan


Oh mon ajeling, odikna oreng majengan abental ombak Sopok angin salajengna Reng majeng banyak ongguk babajene obilang alako bende nyabene.
Cuplikan lagu “Tonduk Majeng”,dari madura yang berarti “Perahu Nelayan”, menggambarkan betul berat dan resiko menjadi nelayan. Bukan main beratnya, hidup para nelayan. Berbantal ombak, berselimut angin selamanya. Nelayan sungguh banyak bahayanya, dapat dibilang mereka bermodal nyawa.
Masyarakat Jepang pun menilai profesi helayan adalah kikken, kikui, kitanai, yakni keras, penuh resiko dan kotor. Oleh katenanya, kebanyakan para pemuda Jepang memilih kerja , di darat, yang gajinya sudah lumayan. Pekerjaan di laut .diisi oleh pekerja asing, terutama Indonesia. Sekitar 62% ABK kapal, tuna Jepang adalah dari nelayan muda kita.

Di kapal dengan fasilitas seadahya, yang ruangannya banyak tersita oleh palkah tempat penyimpanan ikan, selama di.laut penuh kerja. Menurunkan jaring atau pancing, mengangkat, menangani dan menyimpan ikan. Siang dan malam. Setiba di pelabuhan masih tetap harus membongkar hasil tangkapan dan memuat umpan, es, air, bahan bakar dan logistik lainnya.
Di laut menuju. daerah tangkap, atau fishing ground yang belum tentu pasti kordinatnya. Sudah pasti digoyang ombak, yang tidak jarang diterpa badai atau gulungan ombak yang besar dan ganas, disertai hujan dan angin.Hasilnya pun tidak menentu, kadang melimpah, tidak jarang pula tak seekor ikan pun menghampirinya. Walaupun isyarat alam sering membantu. Dikala gelap bulan, hasil tangkapan lumayan banyak. Di terang bulan, saatnya bermain ndang-ndut, karena di laut sepi ikan. Dikala musim barat, ikan di laut Masalembo, dikala angin timur, ikan telah berpindah ke Selat Karimata. Walaupun penelitian yang menduga keberadaan ikan di bawah posisi kapal, fish finder, telah tersedia. Fasilitas satelit juga mendeteksi suhu muka air laut dan keberadaan plankton” bisa sedikit membantu. Namun keakuratan belurn juga dapat memberikan jaminan.

Kondisi yang serba tidak pasti serta resiko yang besar, memerlukan secara mutlak adanya sistem jaminan atau asuransi di kalangan nelayan. Bisa asuransi jiwa, asuransi,kecelakaan, bahkan asuransi untuk menutup kebutuhan ekonomi, saat hari-hari paceklik. Kondisi ini ada yang berlaku umum, di segenap penjuru tanah air, seperti cuaca, gelap dan terang bulan, ataupun ombak yang.mengancam. Namun adapula yang spesifik daerah, seperti jenis ikan, alat tangkap ataupun kelimpahan ikan. Dengan demikian maka hisa diterapkan suatu program nasional, tapi ada pula yang lebih efektif, apabila diterapkan secara lokal, sesuai wilayah masing-masing yang memiliki karakteristik tertentu.
Nelayan banyak pula yang secara geografis mengalami nasib kurang beruntung. Bayangkan saja, dengan domisili di pesisir, intrusi air laut pasti terjadi, sehingga,tidak semua budidaya tanaman bisa dimanfaatkan untuk nrenjadi tambahan penghasilan. Sumur yang asin, menyebabkan usaha ekstra untuk memperoleh air minum dan air yang untuk memasak. Apalagi nelayan yang di lokasi terpencil, atau pulau kecil. Transportasi menjadi permasalahan yang tidak kecil. Beium lagi bila ombak besar, menjadi wilayah yang terisolasi, langka beras, minyak goreng, bahan makanan lain, ataupun bahan bakar. Biaya hidup menjadi mahal, sehingga kesejahteraan sulit diraih. Belum lagi kebutuhan sosial, seperti pendidikan dan kesehatan.

Kondisi seperti diatas tentu memerlukan sentuhan serius dari pemerintah dan berbagai pihak. Apalagi, kalau dikonstitusi dijanjikan bahwa fakir rniskin ditanggung oleh negara. Dalam hal ini tepat pula wasiat Sunan Drajat, salah satu Wali Songo, penyebar agama Islam di Lamongan yang menganjurkan:
Wenehno teken marang
wong kq.ng”wuto Wenehno pakean marang
wong kang wudo Wenehno payung marang
wong kang kudanan Wenehno pangan marang
wong kang luwe.*

*)Soen’an Hadi Poernono

Anggota Dewan Pakar Masyarakat Perikanan Nusantara (MPN).
Alamat    : Jl. Tawes Dalam No.l Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Telp        : 021 – 7807668
HP         : 08161933911
e-mail     : soenanhp@yahoo.com

Sumber : Majalah Demersal

Share/Bookmark

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *