browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

NILAI TUKAR NASIONAL NELAYAN LAMPAUI TARGET

Posted by on 9 November 2010
NILAI TUKAR NASIONAL NELAYAN LAMPAUI TARGET

Dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat nelayan sebagaimana misi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), kementerian ini menargetkan Nilai Tukar Nelayan (NTN) sebesar 105 pada tahun 2010. Hingga bulan September 2010 tercatat NTN nasional sebesar 106,26 atau melebihi target yang telah ditetapkan. Maluku menjadi propinsi tertinggi NTN, yaitu sebesar 124.48 pada bulan yang sama atau melampui NTN nasional.

Keberadaan NTN digunakan sebagai salah satu indikator dalam melihat tingkat kesejahteraan nelayan. Selama ini melihat kondisi ekonomi nelayan hanya lihat dari pendapatan yang diperoleh.  Penghitungan NTN dimulai sejak KKP bekerjasama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2008, karena sebelumnya perhitungan NTN masuk kedalam Nilai Tukar Petani. Dengan penghitungan secara khusus, maka kini kelompok masyarakat pesisir yang sering dikategorikan sebagai segmen masyarakat mayoritas miskin ini telah memiliki ukuran yang lebih akurat.

Nilai tukar umumnya digunakan untuk menyatakan perbandingan antara harga barang-barang dan jasa yang diperdagangkan antara dua atau lebih negara, sektor, atau kelompok sosial ekonomi. Nilai Tukar Nelayan (NTN) digunakan untuk mempertimbangkan seluruh penerimaan (revenue) dan seluruh pengeluaran (expenditure) keluarga nelayan. Selain itu, NTN juga digunakan sebagai salah satu alat untuk mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat nelayan secara relatif dan merupakan ukuran kemampuan keluarga  nelayan untuk memenuhi kebutuhan subsistennya. Dengan demikian maka kini untuk mengukur tingkat kesejahteraan nelayan, semakin diperoleh yang lebih akurat dan obyektif.

Berdasarkan hasil perhitungan BPS, NTN bulan September 2010 tercatat sebesar 106,28, jauh meningkat dibandingkan bulan yang sama tahun 2008 sebesar 102,73. Artinya, pada pada tahun ini, nelayan telah semakin dapat menyimpan hasil pendapatan yang diperoleh dari kegiatan penangkapan ikan setelah digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya.

Sementara itu NTN nasional berdasarkan hasil perhitungan per propinsi, tercatat bahwa pada bulan September 2010 Maluku merupakan propinsi tertinggi nilai tukar nelayannya sebesar 124,48, diikuti berturut-turut oleh NTT (120,19), DI Yogyakarta (116,43), Lampung (114,68) dan Jawa Tengah (114,21).  Dengan demikian, maka di daerah tersebut para nelayan dapat memperoleh banyak pendapatan yang dapat disisihkan, setelah dilakukan pengeluaran untuk kehidupan sehari-hari dan modal produksi. Apabila NTN memperoleh 100,00, berarti pas-pasan antara pendapatan dan pengeluaran. Sebaliknya,  bila kurang dari 100,00 berarti lebih banyak yang dikeluarkan daripada yang diperoleh. Hal ini bisa terjadi bila harga ikan murah, produksi rendah atau tidak musim ikan, atau biaya operasional dan biaya hidup di lokasi relative tinggi. Misalnya di Papua, Bangka Belitung, Kalimantan Selatan dan Bali.

Disamping menghitung NTN, KKP bersama BPS juga telah mulai dihitung Nilai Tukar Pembudidaya ikan (NTPi), karena unsur ekonomi dua kelompok perikanan ini sangat berbeda, baik biaya penerimaan, apalagi biaya pengeluaran. Kegiatan perhitungan NTPi hingga tahun ini baru dilakukan di 7 (tujuh) propinsi, yaitu Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, dan Banten. Hasilnya tercatat bahwa rata-rata NTPi nasional tidak jauh beda dengan rata-rata NTN nasional, yaitu 106,13 (sedangkan NTN adalah 106,26). NTPi tertinggi pada bulan September 2010 adalah Propinsi DI Yogyakarta sebesar 124,54, diikuti oleh Banten (108,60) dan Jawa Tengah (108,08). Sementara itu, NTPi terendah pada bulan yang sama adalah Propinsi Jawa Barat sebesar 95,13. Hasil ini menunjukkan bahwa dalam tahun ini masyarakat pembudidaya ikan di DI Yogyakarta jauh lebih memperoleh keuntungan dalam budidaya ikan.

Apabila dibandingkan antara keuntungan nelayan dengan pembudidaya ikan, bisa terdapat perbedaan yang nyata. Misalnya tahun ini di DI Yogyakarta, NTPi (124,54) jauh lebih tinggi dibandingkan NTN (110,49). Artinya, pembudidaya ikan lebih banyak memperoleh keuntungan dibandingkan dengan nelayan, walaupun nelayan dirasa belum menanggung kerugian pada bulan tersebut. Namun misalnya di Propinsi Jawa Barat yang nilai NTN (112,32) dan TNPi (95,13), kesejahteraan nelayan ternyata lebih baik dibandingkan pembudidaya ikannya. Dengan adanya NTN ini kita dapat melihat kondisi nelayan lebih jelas setiap bulan, musim paceklik atau musim panen, demikian juga terhadap berbagai faktor ekonomi yang mempengaruhinya. Dalam mengukur kesejahteraan masyarakat kelautan dan perikanan, tentu tidak hanya diukur dengan indikator NTN dan NTPi saja. Kementerian Kelautan dan Perikanan menggunakan pula pendapatan, Index Produksi, dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI).

Share/Bookmark

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *