browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Penjualan Bibit Udang Melonjak 20%

Posted by on 5 October 2010
Penjualan Bibit Udang Melonjak 20%
Peningkatan permintaan bibit udang terutama terjadi pada tambak rakyat
Oleh : Raka Mahesa Wardhana

JAKARTA. Tampaknya, tahun ini, produksi udang bakal menjanjikan. Para petambak udang mulai mampu mengantisipasi serangan virus yang merajalela sejak pertengahan 2009 lalu. Buktinya, penjualan bibit udang (benur), terutama untuk kebutuhan tambak rakyat, meningkat pesat

Sejak Maret hingga sekarang, rata-rata penjualan benur per hari naik 20% dibandingkan penjualan harian di bulan-bulan sebelumnya.

Ketut Sugama, Direktur Pembenihan Ikan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), sejak Maret, penjualan benur mencapai 1 juta ekor per hari. Padahal, bulan sebelumnya, petambak hanya membeli 833.000 ekor per hari. Kebanyakan pembelinya adalah para petambak dari Gresik dan Tuban, Jawa Timur.

Ketut mengklaim, penjualan benur naik karena petambak berhasil menangani virus dengan cara mengatur kepadatan udang di tambak. Saat ini, petambak membudidayakan udang dengan kepadatan di bawah 120 ekor per meter persegi (m2). “Dengan kepadatan itu, udang lebih aman dari virus,” katanya Biasanya, udang akan dipanen setelah mencapai berat minimal 6,6 gram per ekor.

Yang menggembirakan, Kenaikan penjualan benur juga tidak hanya terjadi untuk udang yang dipasarkan di dalam negeri, tapi juga udang uuntuk ekspor. Hanya saja, Ketut mengaku belum mengantongi rincian data penjualan masing-masing.

Produksi lebih rendah

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP Made L. Nurdjana menghitung, padasemester 11-2010, tambak rakyat bisa menghasilkan hingga 100.000 ton udang. Lalu, tambak milik anggota Shrimp Club Indonesia (SCI) bisa berproduksi 125.000 ton, dan tambak PT Central Protein-pima Tbk (CP Prima), produsen udang terbesar di Indonesia, dapat menghasilkan hingga 60.000 ton udang.

Makanya, Made meyakini produksi udang tahun ini bisa di atas target, yakni 350.000 ton. Maklum, data KKP memperlihatkan, produksi udang di semester 1-2010 mencapai

136.175 ton. Nah, jika prediksi Made tidak meleset, produksi udang sepanjang tahun 2010 ini bisa mencapai 421.175 ton.

Iwan Sutanto, Ketua Umum SCI juga meyakini, target produksi udang anggota mereka sebesar 125.000 ton akan tercapai. Sebab, mereka sudah memiliki teknologi yang mampu mengatasi masalah virus. Teknologi ini menggabungkan sistem pengendapan air dan filter biologi virus dengan memakai ikan nila sebagai subjeknya. Selain itu, mereka juga mengatur kepadatan produksi udang seperti yang dilakukan para petambak rakyat

Sebaliknya Ketua Komisi Udang Indonesia Shidiq Moeslim tidak begitu meyakini hitungan Made. Menurutnya, tahun ini, produksi udang nasional tidak akan melonjak terlalu drastis.

Soalnya, penambahan luas tambak udang baru akan terjadi Desember nanti. Sebab, para petambak masih menunggu kepastian hasil pengurangan kepadatan produksi. Makanya, Shidiq menghitung, sepanjang 2010 ini, produksi udang hanya sekitar 275.000 ton, atau naik 10% dibandingkan perkiraan sebelumnya sebanyak 250.000 ton.

Apalagi, peningkatan penjualan benur hingga 25% belum tentu membuat produksi udang naik dengan besaran yang sama. Sebab, kemungkinan benur bisa hidup dan menjadi udang hanya 70%. Alhasil, pertumbuhan produksi udang diperkirakan hanya 14% ketimbang saat penjualan benur belum meningkat.

Juru Bicara CP Prima George Basuki mengaku belum mendapatkan data mutakhir soal produksi udang. Maklum, hingga kini, anak usaha Charoen Pokphand itu masih fokus menangani dampak serangan virus ke produksi.

Sumber : Harian Kontan 01 Oktober 2010,hal.15

JARING INSANG DAN SEJENISNYA (GILL NET AND THEIR KINDS)

Drift Gillnet

  1. Definisi dan Klasifikasi

Menurut Subani dan Barus (1989), gillnet yaitu alat tangkap berbentuk empat persegi panjang yang dilengkapi dengan pelampung, pemberat, tali ris atas, tali ris bawah. Sedangkan gillnetdrift gillnet) adalah gillnet yang setelah dipasang di suatu perairan, dibiarkan saja hanyut terbawa oleh arus (Naryo, 1985). hanyut (


  1. Alat Penangkapan Ikan

Bagian-bagian dari drift gillnet antara lain :

  1. Jaring Utama

Jaring utama adalah merupakan sebuah lembaran jaring yang tergantung  pada tali ris atas. Ukuran mata jaring pada jaring utma bervariasi disesuaikan dengan jenis-jenis ikan yang akan ditangkap. Umumnya ukuran mata jaring berkisar antara 25mm-175mm(Naryo, 1985). Menurut Siswanto (1984) bahan yang digunakan untuk pembuatan jaring utama harus memenuhi syarat-syarat :

Ø Visibilitas rendah

Ø Benang setipis mungkin

Ø Benang lembut dan lemas

Ø Breaking strenght tinggi

Ø Elongation dan elastisitas tinggi

  1. Tali ris atas

Tali ris atas adalah tempat untuk menggantungkan jaring utama dan tali pelampung. Bahan yang digunakan adalah polyethylene (PE) atau kuralon dengan diameter 8mm (Naryo, 1985).

  1. Tali ris bawah

Tempat untuk tempat melekatnya pemberat. Bahan yang digunakan adalah polyethylene (PE) atau kuralon dengan diameter 8mm (Naryo, 1985).

  1. Tali pelampung

Tempat melekatnya pelampung tanda. Bahan yang digunakan adalah polyethylene (PE) atau kuralon dengan diameter 8mm(Naryo, 1985).

  1. Pelampung

Berfungsi untuk mengapungkan seluruh alat. Bahan pelampung yang biasa digunakan adalah dari gabus, plastik, busa karet. Bentuk pelampung umumnya oval atau elips kecuali untuk pelampung tanda yang biasanya berbentuk bulat (Naryo, 1985).

  1. Pemberat

Berfungsi untuk menenggelamkan bagian bawah jaring. Bahan yang digunakan bisa dari saran, batu ataupun dari logam (Naryo, 1985).

  1. Tali Slambar

Berfungsi untuk melekatkan ujung gillnet dengan pelampung tanda kadang-kadang juga untuk mengikatkan gillnet tersebut dengan kapal (Naryo, 1985).

  1. Kelengkapan alat dalam unit penangkapan ikan

Kapal

Dalam melakukan operasi penangkapan, jaring insang biasanya menggunakan kapal gillnet untuk mengangkut alat tangkap jaring insang, nelayan, dan hasil tangkapannya (Subani-Barus, 1989)

Nelayan

Menurut kelompok kami, nelayan yang mengoperasikan jaring insang terdiri dari enam orang. Ada yang bertugas sebagai juru mudi dan menentukan fishing ground, ada yang bertugas menurunkan jaring insang, dan ada yang bertugas untuk mengangkat jaring insang.

Alat Bantu

Jaring insang biasanya tidak memakai alat bantu dalam pengoperasiannya (Naryo, 1985).

3.4 Umpan

Jaring insang biasanya tidak memakai umpon dalam pengoperasiannya (Naryo, 1985).

4.  Metode pengoperasian alat

Penangkapan ikan dengan menggunakan jarring insang umumnya dilakukan pada saat malam hari terutama pada saat waktu gelap bulan (Naryo, 1985).

Mula-mula posisi kapal ditempatkan sedemikian rupa agar arah angina datangnya dari tempat penurunan alat. Setelah kedudukan/ posisi kapal sesuai dengan yang dikehendaki, jaring dapat diturunkan. Penurunan jaring dimulai dari penurunan pelampung tanda ujung jaring atau lampu, kemudian tali slambar depan, lalu jaring, dan terakhir tali slambar pada ujung akhir jaring atau tali slambar belakang yang biasanya terus diikatkan pada kapal (Naryo, 1985).

Pada saat penurunan jaring, yang harus diperhatikan adalah arah arus laut. Karena kedudukan jaring yang paling baik adalah memotong arus antara 450-900 (Naryo, 1985).

Setelah jaring dibiarkan selama 3-5 jam, jaring dapat diangkat keatas kapal untuk diambil ikannya. Urutan pengangkatan alat ini adalah dimulai dari tali slambar belakang, jaring, tali slambar muka, dan terakhir pelampung tanda (Naryo, 1985).

5. Daerah pengoperasian

Daerah penangkapan yang baik untuk jarring insang yaitu bukan daerah alur pelayaran umum dan arus arahnya beraturan, dan paling kuat sekitar 4 knots (Naryo, 1985). Contohnya di daerah Gorontalo dan Selat Bali (Subani-Barus, 1989)

  1. Hasil tangkapan

Hasil tangkapan dari jaring insang, yaitu Lemuru, Tembang, Kembung, Tenggiri, Alu-alu, Tongkol, Cakalang, dan Kwe (Subani-Barus, 1989).


DAFTAR PUSTAKA

Sadhori, Naryo. 1985. Teknik Penangkapan Ikan. Penerbit Angkasa. Bandung. Hal : 11-33

Siswanto. 1984. Suatu Studi Tentang Desain Gill Net, Trammel Net, Jaring Payang, dan Jaring Arad Di Cilacap. Skripsi (tidak dipublikasikan). Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Hal 18-27.

Subani W dan HR Barus. 1989. Alat Penangkapan Ikan dan Udang Laut

Indonesia. Jurnal Penelitian Perikanan Laut No. 50. Jakarta :

Departemen Pertanian, Balai Penelitian Perikanan Laut. Hal :

219 dan 225.

Share/Bookmark

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *