browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Perikanan Tangkap Belum Kantongi MSC

Posted by on 28 April 2014

JAKARTA – Saat ini produk perikanan tangkap asal Indonesia belum ada yang mendapatkan sertifikasi internasional The Marine Stewardship Council (MSC), untuk produksi perikanan dengan cara-cara lestari.

Sementara  dua negara Ma­la­dewa dan Vietnam, sudah lebih dahulu mengantongi sertifikat ter­sebut.

‘’Belum ada produk per­ikanan tangkap Indonesia yang mempunyai MSC. Di Asia baru Maladewa untuk produk ikan cakalang de­ngan penangkapan pancing. Lalu ada kerang tang­kapan untuk Viet­nam,’’ ungkap Dirjen Peng­olahan dan Pemasa­ran Hasil Peri­kanan (P2HP) Kementerian Ke­lautan dan Perikanan (KKP), Saut P Huta­galung, di Jakarta, akhir pekan lalu.

MSC adalah sertifikasi ekolabel internasional yang merupakan bagian dari persyaratan pasar ekspor. Kecenderungan persya­ratan ekolabel semakin mening­kat di pasar internasional.

KKP sendiri mengajukan usul­an sejak 2010 untuk mendapatkan pengakuan MSC atas produk pe­rikanan tangkap Indo­nesia yaitu cakalang, rajungan, kerapu, kakap big eye, dan tuna yellow fin. Tetapi hingga kini belum ada satu pun produk yang disertifikasi MSC.

Sangat Penting

Saut menyebut proses sertifikasi berkelas internasional itu cukup sulit dengan tahapan panjang. ‘’Kita masih terus mengajukan dan masih banyak per­sya­ratan yang harus diperbaiki. Belum lagi survei yang mema­kan waktu 6 bulan, baru sertifikat dapat dicetak,’’ kata­nya.

Menurut Saut, sertifikasi MSC sangat penting dan berguna. Se­tidaknya ada 3 manfaat yang dida­pat Indonesia, yaitu produk yang didapat berasal dari cara yang benar, lalu pasar ekspor lebih terbuka, serta harga yang jauh lebih tinggi. Kemu­dian konsumen di luar negeri tidak ragu mengonsumsi produk Indonesia.

Menurut data KKP, pada 2013 nilai ekspor produk per­ikanan tangkap mencapai 4,2 miliar dolar AS, dengan rincian nilai tuna sebesar 764 juta dolar AS, rajungan 359 juta dolar AS, kakap merah sebesar 11,7 juta dolar AS, dan kerapu 29 juta dolar AS.

Pemerintah mengklaim im­por perikanan dari negara-ne­gara ASE­AN bisa dikendalikan atau dikurangi. Selain itu, secara total nilai ekspor perikanan Indonesia ke ASEAN lebih besar daripada impornya.

Dari data P2HP, neraca perdagangan hasil perikanan Indo­nesia ke ASEAN surplus besar 324,61 juta dolar AS pada 2011, lalu pada 2012 sebanyak 493,44 juta dolar AS, dan 2013 mencapai  464,94 juta dolar AS. Hal ini penting bagi Indonesia untuk memasuki Masyarakat Eko­no­mi ASEAN (MEA) 2015.

Saut menambahkan tujuan utama ekspor perikanan Indone­sia ke ASEAN antara lain ke Thailand sebanyak 39%, Viet­nam 22%, Singapura 14% dan Malaysia 13%. Nilai produk utama yang diekspor cakalang beku sebanyak 8,6%, ikan laut /ikan dasar 7,9%, dan tuna kaleng 4,4%.

‘’Terkendalinya impor juga menunjukkan bahwa peningkatan daya saing usaha perikanan perlu terus dilakukan secara konsisten dan terencana, sehingga lebih siap menghadapi persaingan tidak saja di pasar ASEAN juga pasar glo­bal,’’ tegas­nya.(wa-79)

Share/Bookmark

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *